Jumat, 18 Maret 2016

Wayang Museum

Wayang Museum

From Wikipedia, the free encyclopedia
Wayang Museum Museum Wayang
Museum Wayang.jpg
The front view of the Wayang Museum seen from Fatahillah Square (Indonesian: Taman Fatahillah)
Established 1975
Location Pintu Besar Utara Street 27, Jakarta Barat, Jakarta, Indonesia
Type Traditional art museum
Public transit access
The Wayang Museum (Indonesian: Museum Wayang) is a museum dedicated to Javanese wayang puppetry. The museum is located in Kota Tua, Jakarta, Indonesia. It is one of several museums and galleries facing the Fatahillah Square, which include Jakarta History Museum, Fine Art and Ceramic Museum, and Kota Post Office art gallery.[1]

Contents

History

An old photograph showing the model of the 'Nieuwe Hollandse Kerk' in the Old Batavia Museum. the Old Batavia Museum was constructed on the place where the Nieuwe Hollandse Kerk was once built
The building occupies the site of a church which was built in 1640 under the name of the Old Dutch Church (Dutch: De Oude Hollandsche Kerk). In 1732, the church was renovated and the name was changed into the New Dutch Church (Dutch: De Nieuwe Hollandsche Kerk). In 1808, an earthquake destroyed the church.[2] Later in 1912, a building was constructed in the Neo-Renaissance style on the site, which initially functioned as a warehouse belonging to Geo Wehry & Co. In 1938, the building was renovated, following Dutch colonial architecture. The garden of the Wayang Museum located on the former yard of the Dutch church was the funeral site of General Governor Jan Pieterszoon Coen.
Later, the building was bought by the Batavia Society of Arts and Sciences (Dutch: Bataviasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen), an institution dealing with Indonesian culture and science. The institution then transferred this building to the Old Batavia Foundation (Dutch: Stichting Oud Batavia) and on December 22, 1939, it was made a museum under the name of Old Batavia Museum (Dutch: Oude Bataviasche Museum). In 1957, after the independence of Indonesia, the building was transferred to the Institute of Indonesian Culture (Indonesian: Lembaga Kebudayaan Indonesia) and on September 17, 1962 to the Ministry of Education and Culture, which later was delivered to the DKI Jakarta Administration on June 23, 1968 to be made the Wayang Museum. The inauguration took place on August 13, 1975. The museum is also a venue for training and research on shadow puppets.[3]
Memorial plaque relating to the church where among others Jan Pieterszoon Coen was buried.[2]

Collections

Budaixi puppet in the museum, one of collection originating from China.
The museum has a collection of various kinds of wayang, such as wayang kulit and wayang golek. It also displays various collections of wayang and dolls from countries like Malaysia, Thailand, Suriname, China, Vietnam, France, India and Cambodia. The museum also shows gamelan sets, wayang sculptures, as well as wayang paintings.[3] Inside the museum is the plate marking the tombstone of Jan Pieterszoon Coen.[2] A wayang theater and a workshop of wayang-making is periodically organised in the museum.

References


  • Kuoni - Far East, A world of difference. Page 93. Published 1999 by Kuoni Travel & JPM Publications

  • "Museum Wayang in Jakarta". asiarooms.com. 2010. Retrieved January 7, 2010.

    1. "Shadow Puppets Museum". Indonesia Tourism. IndonesiaWebPromotion. Retrieved 2009-12-29.

    External links

    Media related to Wayang Museum at Wikimedia Commons Coordinates: 6.1347°S 106.8124°E

    Taman Mini Indonesia Indah

    Taman Mini Indonesia Indah

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Logo Taman Mini Indonesia Indah
    Danau yang menggambarkan kepulauan Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah
    Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan suatu kawasan taman wisata bertema budaya Indonesia di Jakarta Timur. Area seluas kurang lebih 150 hektare[1] atau 1,5 kilometer persegi ini terletak pada koordinat 6°18′6.8″LS,106°53′47.2″BT. Taman ini merupakan rangkuman kebudayaan bangsa Indonesia, yang mencakup berbagai aspek kehidupan sehari-hari masyarakat 26 provinsi Indonesia (pada tahun 1975) yang ditampilkan dalam anjungan daerah berarsitektur tradisional, serta menampilkan aneka busana, tarian, dan tradisi daerah. Di samping itu, di tengah-tengah TMII terdapat sebuah danau yang menggambarkan miniatur kepulauan Indonesia di tengahnya, kereta gantung, berbagai museum, dan Teater IMAX Keong Mas dan Teater Tanah Airku), berbagai sarana rekreasi ini menjadikan TMIII sebagai salah satu kawasan wisata terkemuka di ibu kota.[2]

    Daftar isi

    Sejarah

    Gagasan pembangunan suatu miniatur yang memuat kelengkapan Indonesia dengan segala isinya ini dicetuskan oleh Ibu Negara, Siti Hartinah, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibu Tien Soeharto. Gagasan ini tercetus pada suatu pertemuan di Jalan Cendana no. 8 Jakarta pada tanggal 13 Maret 1970. Melalui miniatur ini diharapkan dapat membangkitkan rasa bangga dan rasa cinta tanah air pada seluruh bangsa Indonesia.[2] Maka dimulailah suatu proyek yang disebut Proyek Miniatur Indonesia "Indonesia Indah", yang dilaksanakan oleh Yayasan Harapan Kita.
    TMII mulai dibangun tahun 1972 dan diresmikan pada tanggal 20 April 1975. Berbagai aspek kekayaan alam dan budaya Indonesia sampai pemanfaatan teknologi modern diperagakan di areal seluas 150 hektare. Aslinya topografi TMII agak berbukit, tetapi ini sesuai dengan keinginan perancangnya. Tim perancang memanfaatkan ketinggian tanah yang tidak rata ini untuk menciptakan bentang alam dan lansekap yang kaya, menggambarkan berbagai jenis lingkungan hidup di Indonesia.[2]

    Logo dan maskot

    TMII memiliki logo yang pada intinya terdiri atas huruf TMII, Singkatan dari "Taman Mini Indonesia Indah". Sedangkan maskotnya berupa tokoh wayang Hanoman yang dinamakan NITRA (Anjani Putra). Maskot Taman Mini "Indonesia Indah" ini diresmikan penggunaannya oleh Ibu Tien Soeharto, bertepatan dengan dwi windu usia TMII, pada tahun 1991.

    Bagian-bagian TMII

    Taman Mini Indonesia Indah Map id.svg

    Anjungan daerah

    Tari Jaipongan di Anjungan Jawa Barat TMII.
    Di Indonesia, hampir setiap suku bangsa memiliki bentuk dan corak bangunan yang berbeda, bahkan tidak jarang satu suku bangsa memiliki lebih dari satu jenis bangunan tradisional. Bangunan atau arsitektur tradisional yang mereka buat selalu dilatarbetakangi oleh kondisi lingkungan dan kebudayaan yang dimiliki. Di TMII, gambaran tersebut diwujudkan melalui Anjungan Daerah, yang mewakili suku-suku bangsa yang berada di 33 Provinsi Indonesia. Anjungan provinsi ini dibangun di sekitar danau dengan miniatur Kepulauan Indonesia, secara tematik dibagi atas enam zona; Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Tiap anjungan menampilkan bangunan khas setempat. Anjungan ini juga menampilkan baju dan pakaian adat, busana pernikahan, baju tari, serta artefak etnografi seperti senjata khas dan perabot sehari-hari, model bangunan, dan kerajinan tangan. Semuanya ini dimaksudkan untuk memberi informasi lengkap mengenai cara hidup tradisional berbagai suku bangsa di Indonesia. Setiap anjungan provinsi juga dilengkapi panggung, amfiteater atau auditorium untuk menampilkan berbagai tarian tradisional, pertunjukan musik daerah, dan berbagai upacara adat yang biasanya digelar pada hari Minggu. beberapa anjungan juga dilengkapi kafetaria atau warung kecil yang menyajikan berbagai Masakan Indonesia khas provinsi tersebut, serta dilengkapi toko cenderamata yang menjual berbagai kerajinan tangan, kaus, dan berbagai cenderamata.
    Sejak tahun 1975 hingga tahun 2000 rancangan asli TMII terdiri atas anjungan rumah adat dari 27 provinsi di Indonesia, termasuk Timor Timur. Akan tetapi setelah Timor Leste merdeka dan memisahkan diri dari Indonesia pada tahun 2002, status anjungan Timor Timur berubah menjadi Museum Timor Timur. Selain itu karena kini Indonesia terdiri atas 33 provinsi, anjungan-anjungan provinsi baru seperti Bangka Belitung, Banten, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Gorontalo, Kepulauan Riau, dan Papua Barat telah dibangun di sudut Timur Laut TMII, walaupun ukuran dan luas anjungan provinsi baru ini jauh lebih kecil dari anjungan provinsi yang telah dibangun sebelumnya.

    Bangunan keagamaan

    Bangunan keagamaan diwakili oleh beberapa rumah ibadah agama resmi yang diakui di Indonesia, hal ini untuk menggambarkan toleransi dan keselarasan hubungan antar agama di Indonesia. Bangunan-bangunan keagamaan antara lain:

    Sarana rekreasi

    Istana Anak-anak Indonesia
    Keong Mas
    • Istana Anak-anak Indonesia
    • Kereta gantung
    • Perahu Angsa Arsipel Indonesia
    • Taman Among Putro
    • Taman Ria Atmaja
    • Desa Wisata
    • Kolam renang Snow Bay
    • Museum Iptek TMII

    Taman

    Di TMII terdapat sepuluh macam taman yang menunjukkan keindahan flora dan fauna Indonesia:
    Kubah Taman Burung.
    • Taman Anggrek
    • Taman Apotek Hidup
    • Taman Kaktus
    • Taman Melati
    • Taman Bunga Keong Emas
    • Akuarium Ikan Air Tawar
    • Taman Bekisar
    • Taman Burung
    • Taman Ria Atmaja Park, panggung pagelaran musik
    • Taman Budaya Tionghoa Indonesia

    Museum

    Purna Bhakti Pertiwi Museum berbentuk Tumpeng.
    ‎
    Museum Indonesia berarsitektur Bali.
    Museum yang ada diperuntukkan untuk memamerkan sejarah, budaya, flora dan fauna, serta teknologi di Indonesia. Terdapat 16 museum di TMII:

    Museum Asmat

    Teater atau bioskop

    • Teater IMAX Keong Emas yaitu teater dengan layar berukuran raksasa, jauh lebih besar daripada layar bioskop ukuran normal. Di Teater IMAX Keong Mas diputar berbagai film mulai dari film bertemakan lingkungan dan kebudayaan nusantara sampai film-film box office yang resolusinya diubah menjadi khusus untuk teater IMAX. Film IMAX yang diputar antara lain Indonesia Indah II, Force of Nature, T-Rex, Blue Planet, Arabia, Journey to Mecca, dll. Beberapa film box office yang pernah diputar di sini di antaranya adalah:
    • Teater Tanah Airku
    • Teater 4D

    Galeri

    Museum Gedung Joang '45 Jakarta, Peninggalan Bung Karno

    Museum Gedung Joang '45 Jakarta, Peninggalan Bung Karno


    Museum Gedung Joang '45 merupakan saksi perjuangan yang menyimpan cukup banyak sejarah tentang berbagai peristiwa ketika kemerdekaan RI akan berlangsung. Gedung Joang 45 ini lokasinya berada di Jl. Menteng Raya 31, Jakarta. Untuk Anda yang tertarik dengan sejarah dari perjuangan kemerdekaan RI, maka Museum Joang 45 merupakan salah satu tempat wisata di Jakarta yang wajib untuk kunjungi. Pada awalnya Gedung Joang 45 adalah sebuah bangunan Schomper Hotel yang sudah dibangun sejak tahun 1920-1938, yang dikelola L.C. Schomper, keturunan belanda.

    Kemudian pada waktu pendudukan Jepang di Indonesia, hotel ini kemudian diambil alih Ganseikanbu Sendenbu atau Departemen Propaganda dan setelah itu dikenal sebagai Gedung Menteng 31.

    Gedung ini kemudian menjadi sebuah markas program pendidikan politik yang diselenggarakan untuk beberapa tokoh pemuda yang sangat berperan pada era kemerdekaan, antara lain seperti Sukarni, A.M Hanafi, Chaerul Saleh dan Adam Malik.

    Mereka juga lebih dikenal sebagai 'Pemoeda Menteng 31', yang kemudian menjadi aktor dibalik penculikan Soekarno, Hatta dan Fatmawati menuju ke Rengasdengklok satu hari sebelum hari kemerdekaan tiba. Tokoh-tokoh para pemuda tersebut dibina langsung oleh Soekarno, Hatta, Sunaryo, Moh. Yamin dan juga Achmad Subarjo.
    Museum Joang '45 Jakarta
    Museum Joang '45 Jakarta
    foto : wikipedia
    Sejumlah lukisan yang berkaitan dengan peristiwa proklamasi kemerdekaan RI di pamerkan di Museum Gedung Joang '45 ini. Disini juga terdapat beberapa miniatur yang menggambarkan suasana Gedung Menteng 31 pada waktu masa kemerdekaan dan orasi Soekarno dalam sebuah Rapat Besar di Lapangan IKADA yang diadakan pada 19 September 1945.

    Di Museum Gedung Joang '45 ini juga terdapat arsip dokumentasi yang berupa foto-foto dan juga patung dada dari para tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan. Berbagai koleksi lain yang juga terdapat di museum ini adalah seperti tiga kendaraan kepresidenan yang dahulunya digunakan oleh Presiden dan Wakil Presiden pertama Rakyat Indonesia.

    Selain terdapat cukup banyak dokumentasi sejarah, Museum Gedung Joang 45 juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas, antara lain adalah seperti ruang pameran tetap dan temporer yang disertai pojok multimedia, disini juga ada yang dinamakan bioskop joang 45 dan menayangkan berbagai film yang bertemakan perjuangan dan juga dokumenter, perpustakaan yang berisikan berbagai referensi sejarah, children room yang berisikan aneka ragam games, foto studio, souvenir shop dan juga plaza outdoor untuk berbagai aktivitas teater para anak.

    Menarik sekali bukan ? terutama sih untuk para pecinta sejarah kemerdekaan Indonesia, sebagai akomodasi wisata, kami juga memiliki referensi hotel murah di Jakarta untuk Anda yang ingin lebih menghebat uang saku. Untuk yang ingin liburan ke Jakarta, kami juga memiliki referensi daftar tempat wisata di Jakarta yang dapat Anda jadikan pilihan.

    Kamis, 17 Maret 2016

    Gelora Bung Karno Stadium

    Gelora Bung Karno Stadium

    From Wikipedia, the free encyclopedia
    Coordinates: 6°13′6.88″S 106°48′9.04″E
    Gelora Bung Karno Main Stadium Stadion Utama Gelora Bung Karno
    GBK
    Gelora Bung Karno Stadium, Asia Cup 2007.jpg
    Gelora Bung Karno Stadium during football match between Indonesia vs South Korea in 2007 AFC Asian Cup
    Former names Gelora Senayan Main Stadium (1967–2001)
    Location Tanah Abang, Central Jakarta, Indonesia
    Coordinates 6°13′7″S 106°48′9″E
    Owner Football Association of Indonesia (PSSI)
    Operator Gelora Bung Karno Foundation (BPGBK, formerly BPGS-Gelora Senayan Foundation)
    Capacity 88,083
    100,800 (Standing)
    Original capacity, 120,800 (1962–2007)
    Field size 110 x 60 m (120.3 x 65.6 yd)
    Surface Grass
    Construction
    Broke ground 1960
    Opened 24 July 1962
    Construction cost $19,500,000
    Architect Friedrich Silaban
    Tenants
    Indonesia national football team
    Persija Jakarta
    The Gelora Bung Karno Stadium (formerly Gelora Senayan Main Stadium) is a multi-purpose stadium located within the Gelora Bung Karno Sports Complex, Senayan, Central Jakarta, Indonesia. The stadium is named after Sukarno, Indonesia's first President.[1] It is mostly used for football matches and has a seating capacity of over 88,083.

    Contents

    Name

    Although the stadium is popularly known as Gelora Bung Karno Stadium (Stadion Gelora Bung Karno) ot GBK Stadium, its official name is Gelora Bung Karno Main Stadium (Stadion Utama Gelora Bung Karno), as there are other stadiums in the Gelora Bung Karno Sports Complex, such as the Tennis Stadium and the Swimming Stadium. During the New Order era under the "de-Sukarno-ization" policy by former President Suharto, the complex was renamed "Gelora Senayan Complex" and the stadium was renamed "Gelora Senayan Main Stadium".

    History

    The stadium under construction, April 1962.
    Construction began on February 8, 1960 and finished on July 21, 1962.'[2] in time to host the fourth Asian Games which were held in Jakarta. Its construction was partially funded through a special loan from the Soviet Union. The stadium's original capacity of 120,800 people was reduced to 88,083 as a result of renovations for the 2007 Asian Cup.[3] It is divided into 24 sectors and 12 entrances, and into upper and lower stands. The special feature of this stadium is the huge steel roof construction that forms a gigantic ring called temu gelang (joined ring). Other than to shade the spectators in all sectors from the heat of tropical sun, the purpose of this giant ring construction is also to emphasize the grandeur of the stadium.[4]

    Events in the Stadium

    GBK Stadium hosted the 2007 Asian Cup Final between Iraq and Saudi Arabia. Other competitions held there are several Tiger Cup finals and domestic cup finals.

    International

    Other uses

    Other than sports, the stadium is also used for other events such as national ceremonies, political gatherings, admission exams, religious affairs, concerts, etc. Notable events include:
    • The Grand Catholic mass led by Pope John Paul II, in October 1989.[5]
    • Khilafah Conference International, Time for Khilafah Leads the World. Organized by Hizb ut-Tahrir on 12 August 2007.[6]
    • The 100 year anniversary of Indonesian National Awakening day, 20 May 2008.[7]
    • The political rally for both of parliamentary and also presidential elections in 2004, 2009, and 2014.
    • Christmas event jointly organized by the Indonesia Bethel Church for the whole district since 2006 until now (only absent in 2012).
    • Indonesia Tiberias Church Christmas event for the whole district since 2011 until now.
    • Jubileum HKBP (147th in 2007 and 150th in 2011).
    • Mukatamar Khilafah. Organized by Hizb ut-Tahrir held on 2 June 2013 and in other cities in Indonesia earlier.[8]
    • Admission exams for thousands Indonesia ministry of health prospective civil servants on 3 November 2013.[9]
    • 1436H meetings and great marches titled "Bersama Umat Tegakkan Khilafah". Organized by Hizb ut-Tahrir held on 30 May 2015 and in other cities in Indonesia earlier.[10]

    Concerts and shows

    • British Rock Band, Deep Purple held a concert on 4 December 1975. It was the first concert ever held in the stadium and also estimated as the biggest concert ever held at the stadium, because the concert was estimated attended by 150,000 audiences.
    • Linkin Park held "A Thousand Suns World Tour" concert with over 25.000 tickets sold in September 2011.
    • Lady Gaga planned to hold a concert as part of her "Born This Way Ball" in the stadium on June 3, 2012, with 52,000 tickets being sold, but due to a protest the concert was cancelled.
    • SM Entertainment held "SMTown Live World Tour III" concert which is the biggest K-Pop concert held in Indonesia on 22 September 2012 with more than 50.000 tickets sold.
    • KBS held "Music Bank World Tour" concert which is the second biggest k-pop concert to be held in Indonesia on 9 March 2013.
    • Metallica held a concert on August 25, 2013 with more than 60,000 tickets sold.
    • Slank held a concert on December 13, 2013.
    • RCTI celebrated its 25th anniversary in the stadium on August 23, 2014.
    • One Direction performed a sold out concert in the stadium on their "On the Road Again Tour" on March 25, 2015 with 43.032 tickets sold.[11]
    • Bon Jovi held Bon Jovi Live! Tour concert in the stadium on September 11, 2015.

    2018 Asian Games

    Indonesia will host the 2018 Asian Games. It will be held in Jakarta and Palembang. Gelora Bung Karno is chosen to hold the Asian Games event. Due to the age of this stadium, the government had planned to make an improvement for the stadium to meet the Asian Games criteria.

    Gallery

    Taman Prasasti Museum

    Taman Prasasti Museum

    From Wikipedia, the free encyclopedia
    Taman Prasasti Museum Museum Taman Prasasti
    Tamanprasasti.jpg
    Front view of the museum.
    Established July 9, 1977
    Location Jl. Tanah Abang 1, no. 1, Jakarta 10130, Indonesia
    Type Open-air museum
    Museum Taman Prasasti (Indonesian for Museum of Memorial Stone Park or Inscription Museum[1]) is a museum located in Jakarta, Indonesia. The museum was formerly a cemetery, built by the Dutch colonial government in 1795 as a final resting place for noble Dutchmen. Several important person that was buried in the cemetery area are Olivia Mariamne Raffles - the first wife of British governor general Thomas Stamford Raffles - and Indonesian youth activist Soe Hok Gie.[2]
    Colour lithograph from an original watercolor by Rappard. The European cemetery Kerkhof Laan in Tanah Abang with the monument of the priest Van der Grinten in 1881-1889
    The cemetery area is the oldest of its kind in Jakarta and may have been the oldest modern cemetery in the world by comparison with the Fort Canning Park (1926) in Singapore, Gore Hill cemetery (1868) in Sydney, Père Lachaise Cemetery (1803) in Paris, and Mount Auburn Cemetery (1831) in Cambridge, Massachusetts.[3]

    Contents

    History

    The cemetery was officially opened on September 28, 1797, although people had been buried here as early as 1795. The cemetery was known as Kebon Jahe Kober (recorded under this name since December 14, 1798). It was located in Kerkhoflaan and has a total area of 5.9 ha. The cemetery was built to accommodate the increasing number of death that was caused by an outbreak of disease in Batavia. Because of this outbreak, the cemetery area of the New Dutch Church (Dutch Nieuwe Hollandsche Kerk, now the Wayang Museum), Binnenkerk (an inner city Portuguese Church), and Sion Church (an outer city Portuguese Church) was full. Because of this, some of the gravestones from these cemeteries were transferred into Keboh Jahe Kober cemetery.[2]
    Kebon Jahe Kober cemetery is located close to the river Kali Krukut. This river was once used as a transportation mode for carrying the dead to the cemetery via boat.
    After Indonesia's declaration of independence, the park was used as a Christian cemetery. Within the first two years it was managed by the Verberg Foundation and for the next twenty years it was handled by the Palang Hitam Foundation.[2]
    From 1967 to 1975 the cemetery was managed by the Jakarta burials agency. In 1975, the cemetery was closed to make way for the construction of the Central Jakarta mayoralty office. At a request from the local government, some corpses were removed by relatives while others were taken to Tanah Kusir cemetery in South Jakarta. Many tombstones, sculptures and statues were removed and damaged during the construction of the office and now only 32 tombstones remain in their original positions. The size of the cemetery is also reduced from the original 5.9 hectare plot to 1.3 hectares. Only 1,372 of about 4,200 stones were selected to be kept in the cemetery.[2]
    The cemetery was officially inaugurated as Taman Prasasti Museum on July 9, 1977 by Ali Sadikin, former governor of Jakarta.
    Since 2003, the museum is administered by the Jakarta History Museum management.

    Collection

    The tombstones of Taman Prasasti Museum.
    The main collection of the museum is the Dutch gravestones, some of these came from the former Nieuwe Hollandsche Kerk (the location of which is now the Wayang Museum in Jakarta Old Town). These gravestones are marked with the inscription "HK" or "Hollandsche Kerk". The oldest gravestones is from the 17th century up to the end of 18th century. The style of the gravestones range from Javanese-Hindu style, neogothic, and classical. The gravestones are arranged on a park-like setting.
    Other collection of this museum are ancient inscription stones, miniature of different gravestones from various provinces of Indonesia, a replica of a 17th-century hearse, and the original coffins for Sukarno and Mohammad Hatta, the first president and vice president of Indonesia.
    The doric-style main building in front of the cemetery is built in 1874. The building contains two wings to the left and to the right of the main building, each is used to entomb remains of males and females.[4]

    Notable interments

    A tombstone of Pieter Eberveld, now in Taman Prasasti Museum.

    References


  • Dinas Museum dan Pemugaran (2000). Bangunan Cagar Budaya Di Propinsi DKI Jakarta (in Indonesian). Jakarta: Dinas Museum dan Pemugaran Propinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. p. x. Retrieved May 25, 2013.

  • "Dutch cemetery rich with Jakarta history". Matheos Viktor Messakh. The Jakarta Post, Jakarta. Retrieved 2010-01-23.

  • Nirwono Joga (2005). Museum Taman Prasasti - Metamorfosis Kerkhoflaan Menjadi Museum.

    1. Taman Prasasti Museum Leaflet. Museum Sejarah Jakarta.

    Literature

    • Lenzi, Iola (2004). Museum